Sabtu, 27 Juli 2013

Rumah Condong Beratap Lagit ini Dihuni Perempuan Sebatangkara

Lantaran tak punya sanak keluarga dan family, seorang perempuan tua di polewali mandar sulawesi barat hidup sebatangkara  di sebuah gubuk tua selama bertahun-tahun. kondisi bangunan yang sudah lapuk dimakan usia, membuat rumah warisan orang tuan iyani mulai condong alias miring hingga membahayakan keselamatan penghuninya, terutama saat cuaca buruk. Agar tetap bisa berdiri dan menopang kostruksi bangunan, beberapa tiang dan tangga bangunan terapksa diikat tali dan ditopang dengan batang bamboo.
Rumah milik hana (600 di dusun mampie kecamatan wonomulyo polewali mandar ini kondisinya memprihatinkan. Konstruksi bangunannya keropos dan lapuk dimakan usia. Tiang-tiang dan rangka bangunannya  hancur. Atap daun nipa yang sudah bebeberaapa tahun tak pernah diganti hancur dan berjatuhan.

Kompas.com yang menyambangi rumah hana Jumat (26/7) hari ini tampak sejumlah tiang dan sudut bangunan yang keropos terpaksa ditopang dengan kayu atau sebatang bambu agar tidak roboh. Sejumlah sudut bangunan yang hancur terpaksa diikat agar tetap menyatu dnegan seluruh komponen bangunan lainnya.

Meski kondisinya sudah condong alias miring dan membahayakan keselamatan penghuninya, terutama saat hujan atau cuaca buruk, namun hana tetap tinggal di rumah yang kondiisnya jauh dari layak ini. Agar bangunan tua ini tidak roboh beberapa sudut bangunan terpaksa diikat dengan tali plastik dan ditopang dengan kayu atau batang bamboo.

Kepanasan atau kehujanan sudah pasti. Hana kerap mengungsi sementara ke rumah sanak tetangga, terutama saat hujan turun. Kamis (25/7) kemarin hana terpaksa menumpang tidur di sebuah warung milik tetangga lantaran atap salah satu sudut bangunan rumahnya yang selama ini masih bisa dimanfaatkan untuk berteduh, hancur diterjang agin hingga tak ada lagi bagian rumahnya yang bisa digunakan untuk berteduh terutama saat musim hujan seperti saat ini. Hanya terpaksa mengungsi smeentara tidur ke warung tetangga.

Perabiotan rumah dan peralatan dapurnya tetap dibiarkan berserakan di atas rumahnya. Hana hanya naik ke rumahnya saat akan memasak dan setelah makan rumah warisan ini kembali ditinggalkan. Hana memilih menumpang di warung tetangga karena diangap aman dan tidak kehujanan.

“Saya terpaksa menumpang di warung tetangga hanya untuk tidur, saya sering mengungsi tengah malam jika hujan dan kebasahan diguyur hujan,” ujar Hana, pemilik gubuk reot

Untuk bisa hidup selain berharap dari belas kasih para tetangga, Hana juga kerap bekerja serabutan seperti jadi tukang cuci/ buruh tani rumput laut, jadi pengumpul plastik bekas, atau menjual ikan hasil tangkapan nelayan para tetanggannya.

Ketiadaaan biaya menjadi alasan hana tak bisa merenovasi rumah yang menjadi tempatnya berteduah selama bertahun-tahun. Hana pernah meminta bantuan ke pemnerintah setempat agar rumahnya mendapat bantuan renovasi, namun hana dianggap tak layak dapat bantuan renovasi rumah seperti warga lain di desanya atau tetangag desanya.

Menurut hana pemerintah beralasan baru bisa memberi bantuan renovasi jika rumah bersangkutan dihuni minimal tiga orang suami istri dan anak, sementara hana sejak bertahun-tahun lalu pasca kematian kedua orang tuanya pratis hana hanya tinggal seorang diri di rumahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar