Jumat, 17 Mei 2013

Peratahankan Lahannya, Dua Perempuan Bersenjata Parang ini Ditangkap Petugas


Dua ibu rumah tangga yang tengah membawa senjata tajam berupa parang panjang ditangkap aparat kepolisan resort polres polewali mandar, Sulawesi barat, Selasa (14/5) siang tadi. Kedua ibu rumah tangga yang memperebutkan lahan seluas 115 hektar di desa parapa kecamatan tapango polewali mandar, sejak belasan tahun ini menghadang petugas lantaran meniolak lahan yang mereka dududki selama bertahun-tahun diukur petugas sesuai putusan pengadilan.

Pengukuran tapal batas lahan sengketa seluas 115 hektar di desa Parapa, kecamatan tapango polewali mandar selasa siang tadi diwarnai aksi protes sejumla pemilik lahan.

Dua ibu rumah tangga yang menghadang aparat kepolisian dan petugas badan pertanahan yang sedang mengukur tapal batas lahan sengketa yang dikelain kedua belah pihak ini ditangkap petugas polres polewali mandar di tengah lahan sengketa.

Meski berusha melawan dan meberontak sebisanya, namun upaya perlawanan ibu-ibu ini sia-sia saja karena jumlah petugas lebih banyak. Mereka dipgiring dan dibawah petugas ke kantor polisi karena dinilai sebagai propokator warga.

seorang ibu lainnya juga ditangkap petugas karena dikhawatirkan bisa melukai petugas dan termasuk pegawai pertanahan yang tengah mengukur lahan sengketa. Sebelum tanah seluas 115 hektar dibagi antar salmia cs dan haruna cs. Petugas sempat kejar-kejaran dnegan sejumlah warga bersenjata parang namun melarikan diri ke dalam hutan.

Meski kubu salmiah cs yang kalah di pengadilan menolak lahan sengketa diukur, namun petugas badan pertanahan yang dikawal puluhan aparat termasuk kapolres polewlai mandar, akbp johan priyoko tetap melakukan pengukuran lahan sengketa hingga tuntas.

Sengketa lahan antar kubu salmiah cs dan haruna cs yang juga mantan kepala desa setempat sudah berlangsung sejaka belasan tahun lalu. Meski sempat dieksekusi pengadilan 2005 lalu namun kedua belah pihak berbeda pendapat soal penafsiran batas-batas sengekta yang ada dalam peutusan pengadilan.

Kedua kelompok warga yang bersikukuh dnegan pendap[at masing-masing sudah puluhan kali terlibat pertikaian berdarah bahkan korban jiwa karena memperebutkan lahan. Media yang dilakukan berbagai pihak termasuk pemerintah setempat, DPRD dan aparat kepolisian yang melakukan pengukuran tapal batas lahan sengketa hari ini juga mendapat perlawanan sejumlah pihak terutama kubu salmiah yang menolak lahannya dikur pertanahan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar