Selasa, 26 Maret 2013

Industri kasur Rumahan Menopang Hidup Perempuan di Palecce


Industri kasus rumahan yang menopang hidup ratusan rumah tanggadan kaum perempuan di desa Palecce kecamatan Mapilli Polewali mandar Sulawesi barat sebagai sumber pendapatan mereka, hingga kini tetap bertahan dan menjadi pekerjaan utama mereka. Produksi kasur, bantal dan sprey buatan mereka tak hanya dijual di pasar local, tapi juga merambah hingga keluar kabupaten dan propinsi. Sejumlah pengrajin rumahan ini bahkan mendapat pesanan tetap dari sejumlah pengusaha.
Serbuan prabot rumah tangga modern seperti bantal dan springbed tidak serta merta mematikan industry kasus dan bantal rumah di desa Palecce, kecamatan Mapilli Polewali Manadar tertinggal atau mati karena ditinggal pelanggannya. Hingga kini isndustri kasusr dan bantal yang dikelola ratusan keluarga atau rumah tangga terutama perempuan hingga kini tetap lestari.

Karya tangan para pemempuan yang dinilai memiliki cirri khas empuk, tebal dan ukurannya beragam di desa ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelanggan setianya. Terbukti para pengrajin kasusr dna bantla rumah di wilaya ini tak hanya menjula hasil produksi mereka di pasar local tapi juga mensuplai kie kabup[aten lain bahkan di luar Sulawesi barat seperti Kalimantan, palu dan kendari.

Sejumlah pengrajin di lokasi ini selain menjual di pasar local ia juga mengekspor ke Kalimantan dan palu setiap minggu. Maharani, salah seorang penrajin dna pengusaha kasusr dan bantal rumahan di di Palecce ini harus mensuplai secara rutin kebutuhan bvanayl dan kasus hingga ribuan lembar setiap minggunya. Umumnya ibu-ibu rumah tangga atau kaunm perempuan yang menjadikan usaha ini sebagai sumber pendapatan utama mereka saat ini kebnayaanm hanya pelayanan pesanan dari sejumlah pengusaha local mapun di luar propinsi dna kabupaten. “Saya biasnaya menjuaol 1000 hingga 1500 bantal setiap minggu, sedang kasur bisa mencapai 1000 lembar,”ujar Maharani

Agar usaha mereka saling menunjang satu sama lainnya, sebagian perempuan di desa ini mengelola usaha jahitan kain bantal dan kasur, sementara ibu rumah tanga lainnya bekerja membuat kasur dan bantal beragam ukuran sesuai pesanan pelanggan. Sebagian perempuan atau ibu rumah tangga lainnya memetik untung dengan cara menjadi suplayer atau menjualnya ke toko-toko dan pelanggan yang membutuhkan. “Semua kain bantal dna kasusr yang saya buat ini adalah pesanan dari tetangga,”ujar Diana

Bantal dan kasus berbagai ukuran ini dijual secara bervariasi. Bantal misalnya dijual Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu tergantung ukuran besar dan ketebalannya. Sednag kasusr dijual antara Rp 120 ribu hingga 500 ribu tergantung ukuran dan ketebalannya.

Meski usaha mereka kini tetap bertahan di tengah munculnya beragam perabot rumah tangga modern seperti bantal serba guna dan springbed nnamun para perempuan yang menekuni profesinya di desa ini secara turun temurun tidak merasa cemas usaha mereka bakal ditinggal pelanggannya.

Hanya saja minimnya bahan baku kapuk dalam jumlah besar untuk memenuhi pemrintaan pelanggan bantal dan kasur di berbagai daerah bahkan luar prpinsi sulbar, membuat mereka kini kesulitan mempertahankan usahanya. Untuk memenuhi kebutuhan kapuk yang tidak tersedia banyak di polewlai mandar, para pengusaha terpaksa memasok dari berbagai daerah seperti Bantaeng dan beberpa kabupaten lain di Sulawesi selatan.

Mahalnya bahan baku kapuk yang mereka pasok dari luar propinsi mebuat para pengrajin bantal dan kasur rumahan di daerah mengaku kesulitan mengefisienkan biaya produksi agar hasil kerajinan tangan mereka tetap terjangkau pelanggannya. (Mandar, 23032013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar