Jumat, 22 Juni 2012

Tasbih Terpanjang, Simbol Doa abadi bagi Arwah Leluhur


Tasbih. Sebuah tasbih sepanjang 30 meter lebih yang di tengah acara kematian keluarga di Pinrang sulawesi selatan tak hanya menjadi tradisi semata yang digelar warga secara turun temurun, terutama pada setiap acara kematian. Namun ritual mengarak tasbi yang memiliki lebih dari 1000 manik-manik ini juga bermakna sebagai simbol doa sepanjang masa. Baik bagi keluarga korban kematian maupun korban kematian yang sedang berada di alam baqa.
Puluhan tokoh masyarakat, tokoh adat, dan pemuka agama di desa Ambo Alle, Pinrang, sulawesi selatan ini misalnya tampak larut dalam alunan suara tasbih “lailaha illallah” sahut menyahut.

Sambil duduk melingkar, mereka memegang sebuah tasbih sepanjang 30 meter lebih berisi 1000 lebih manik-manik di tangan mereka. Setiap warga yang hadir membaca kalimat syahadat dan doa-doa lain sebanyak 1000 kali lebih atau sebanyak biji tasbih di tangan mereka.

Ustad Halim, salah satu tokoh agama yang hadir menyebutkan, tradisi pagelaran tasbih sambil membaca kalimat syahadat dan doa-doa ini bermakna sebagai simbol doa yang abadi bagi keluarga dan korban kematin agar arwahnya diterima disisi tuhan serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan menerima cobaan. “Ini adalah sibol doa yang abadi sepanjang masa buat keluarga dan korban kematian,”ujar ustads Halim, tokoh agama di Pinrang

Kalimat syahadat dan sejumlah doa-doa yang dilantunkan sesuai jumlah biji tasbih, kerap memakan waktu 3 sampai 4 jam hingga seluruh rangkaian ritual selesai. Tak hanya itu/ usai membaca tasbih dan doa-doa mereka juga menggelar zikir dan membaca barasanji secara berjamaah.

Ritual membaca tasbih dan doa bagi keluarga dan korban kematian yang digelar di rumah wa’mungkin di desa ambo alle ini, tidak hanya menjadi tradisi turun temurun terutama pada setiap acara kematian/ tapi ritual ini juga bermakna sebagai simbol doa sepanjang masa, bagi keluarga dan korban kematian agar perjalananya di alam baqa diberi pengampunan oleh yang maha kuasa.

Meski tradisi ini mulai bergeser menyusul generasi berikutnya yang tak lagi kukuh memegang tradisi mereka, namun mayoritas warga setempat terutama tokoh adat dan dan tokoh masyarakat tetap melanggerng tradisi bermakna doa abadai ini.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar