Jumat, 18 Mei 2012

8 Bocah Satu Kelurahan Menderita Gizi Buruk


Gizi Buruk. Delapan bocah dalam satu kelurahan di Polewali mandar, Sulawesi barat divonis menderita gizi buruk. Minimnya asupan gizi yang cukup dimasa pertumbuhan mereka, serta serangan penyakit yang cukup lama yang tidak diperiksakan ke petugas kesehatan, menjadi salah satu pemicu banyaknya anak-anak di wilayah ini menderita gizi buruk. Kondisi ini diperparah dengan rendahnya kesadaran warga akan pentingnya kesehatan anak sebagai generasi penerus bangsa. Minimnya pendapatan ekonomi para orang tua mereka, kian mempermudah anak-anak mereka terserang gizi buruk.

Di kelurahan Takatidung Polewali Mandar yang penduduknya rata-rata berprofesi sebagai nelayan dan buruh tani ini misalnya, terdapat delapan bocah berumur 1 – 2 tahun dinyatakan menderita gizi buruk. Penyebabnya selain dipicu karena pemberian asupan gizi yang tidak memenuhi standar kesehatan yang layak untuk anak, juga karena kondisi sanitasi lingkungan tempat tinggal mereka yang tidak bersih dan sehat.

Ibu Resky, salah satu warga dusun Mangaramba, Takatidung, Polewali mandar yang kini mulai rutin mengontrol anaknya ke puskesmas dan pustu terdekat sejak anaknya ditetapkan menderita gizi buruk, mengaku gizi buruk yang menyerang anaknya lantaran sebelumnya menderita sakit demam cukup lama. Sejumlah warga lainnya beralasan gizi buruk menyerang anaknya karena tak bisa memenuhi standar pemberian gizi yang layak untuk anaknya, lantaran pendapatan mereka sebagai nelayan kecil, jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka..

Petugas Puskesmas Pekkabata Polewali Mandar, Muh Ihsan mengakui adanya 8 anak di kelurahan Takatidung yang dinyatakan gizi buruk. Menurut Ihzan rendahnya kesadaran warga, minimnya pendap[atan ekonomi warga, serta kondisi lingkungan sebagian warga yang tidak sehat menjadi pemicu terjadinya gizi buruk.

Untuk memperbaiki gizi dan kesehatan bocah yang menderita gizi buruk, petugas telah menginterpensi kesehatan para korban secara rutin dengan cara memberi susu, biskuit dan makanan tambahan lainnya secara rutin, selama 3 bulan untuk tahap awal. 

Potret buram anak-anak Indonesia yang hidup dibawah garis kemiskinan dan menderita gizi buruk dengan mudah dijumpai di negeri ini. Keterbelakangan sosial dan pendidikan umumnya memang masih menajdi pemicu utama banyaknya anak-anak di negeri ini memnderita gizi buruk. Sinergitas instansi terkait yang kurang terpadu dalam menanggulangi problem sosial termasuk penyakit gizi buruk yang menimpa rata-rata anak-anak yang miskin secara ekonomi dan pendidikan mestinya menjadi PR pemerintah dan masyarakat dalam menanggulkangi hal ini.


Apa pun alasannya masih mudahnya anak-anak di tanah air ditemukan menderita gizi buruk adalah sebuah potret kegagalan pemerintah menjamin kesehatan bagi setiap warga negaranya sebagimana diatur dalam undang-undang. Dan ini adalah sebuah bentuk Pelanggaran Hak Asasi manusia yang tak bisa segera diatasi negara.  


Sejumlah ibu yang proaktif bekerja sama dengan petugas kesehatan untuk memperbaiki kondisi kesehatan anaknya memang menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Dari gizi buruk menjadi gizi kurang. Namun orang tua yang kurang proaktif memperbaiki kesehatan anaknya hasilnya hanya jalan di tempat. “Semua bocah yang terdeteksi gizi buruk telah diinterpensi petugas dengan cara memberi susu dan makanan tambahan untuk mempercepat pertumbuhan mereka,”ujar Ihsan.

Petugas puskesmas dan pustu yang menjadi ujung tombak upaya perbaikan standar gizi dan kesehatan masyarakat di Polewali Mandar, kini memang gencar melakukan kampanye dan sosialisasi penyadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan ibu dan anak sebagai generasi penerus bangsa. Namun kampanye penyadaran pentingnya kesehatan masyarakat, tanpa ditunjang dengan upaya pemberdayaan ekonomi warga secara mandiri dan serius dari pemerintah, Upaya perbaikan kesehatan masyarakat hanya akan jalan di tempat. Desakan kebutuhan ekonomi yang tak bisa ditunda kerap memkasa keluarga mengabaikan semuanya termasuk kesehatan anaknya sendiri.

Minimnya kerja sama terpadu antar berbagai instansi pemerintah terkait seperti dinas kesehatan yang bertanggungjawab soal kesehatan masyarakat, dinas sosial yang mendorong upaya pemberdayaan ekonomi warga dan kimpraswil yang bertanggungjawab membenahi sanitasi lingkungan yang bersih dan sehat, kerap tidak bersinergi dalam menangani berbagai problem sosial masyarakat termasuk bocah gizi buruk di wilayah ini.

Tulisan ini disajikan dalam rangka kompetisi Indonesian Human Rights Blog Award ( IHRBA ) sebuah program yang digagas oleh Indonesia Media Defense Litigation Network (IMDLN) sebuah jaringan advokat dan peneliti di Indonesia yang memfokuskan diri pada penyediaan pembelaan bagi para pengguna media sosial di Indonesia khususnya yang terkait dengan kebebasan berekspresi. sebagai upaya promosi hak asasi manusia di dunia online. Pogram ini pada dasarnya ditujukan untuk merangsang blogger dan komunitas blogger Indonesia untuk menulis beragam tema tentang promosi, perlindungan, dan pemenuhan hak asasi manusia di Indonesia.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar