Jumat, 18 November 2011

Tak Hafal Al-Fatihah, Guru Aniaya 2 Siswanya

Kekerasan Anak Kasus kekerasan yang menimpa para siswa di sekolah seolah tak pernah berhenti. Ddua siswa SD di Polewali mandar, Sulawesi barat, menjadi giliran korban berikutnya. Hanya karena tak mampu menghafal surat Al-Fatihan beserta terjemahan yang ditugaskan guru agamanya, kedua siswa ini dianiaya guru agamanya bersama belasan teman-teman sekelasnya. Akibat perbuatan sang guru, sekujur tubuh korban mengalami luka dan memar. Tidak terima perlakukan sang guru, kedua siswa dan orang tuanya melaporkan sang guru ke polisi setempat.
Muhammad Irgi Fahresi (11 tahun) dan Andi Noval Alfahresi (10 tahun) mendatangi kantor mapolsek Wonomulyo Polewali mandar. Kedua korban yang ditemani sang nenek mengaku telah dianaiaya oleh, Udin,  guru agamanya sendiri, hanya karena keduanya tak mampu menghafal Surat Alfatihah beserta terjemahannya.

Kedua murid kelas empat AD Neg 008 Sidodadi , kecamatan Wonomulyo, Polewali mandar ini tidak terima tindakan penganiayaan yang dilakukan gurunya. Kedua korban mengaku tindakan kekerasan yang dilakukan gurunya ini adalah yang kesekian kalinya. Ironisnya tindakan tak terpuji yang dilakukan oleh pendidik ini justru dilakukan oleh guru agamanya sendiri.
.
Kejadian ini berawal saat korban bersama teman sekelasnya di beri tugas PR yakni mengahafal  surat Al-Fatiha beserta terjemahannya. Kedua korban bersama teman sekelas lainnya ini dicubiti sang guru di sekujur tubuh dan wajahnya. Akibatnya sekujur tubuh dan wajah korban memar dan luka-luka. Irgi dan Noval bahkan sempat menangis histeris karena tak mampu menahan rasa sakit, saat sekujur tubunhnya dicubiti sang guru, namun sang guru yang kelewat emosi lantaran hamper semua siswa di kelasnya tak ada yang hafal surat PR yang ditugaskan sebelumnya. Sang guru  terus saja menggilir dan mencubiti para siswanya. Bukan hanya Irgi dan Noval yang mengalami kekerasan serupa, namun belasan teman sekleas korban juga mendapatkan perlakuan serupa. “guru saya marah karena saya tidak bisa hafal terjemaan surat Al-Fatihah, ujar Noval saat mengadu di kantor polsek wonomulyo.
Menurut Irgi dan Noval, kasus kekerasan yang dilakukan guru agamnaya ini adalah yang kesekian kalinya. Sebetulnya Noval dan Iirgi semula berusaha menutupi kasus ini, namun karena keburu ketahuan sang nenek, kedua korban ini pun dicecer pertanyaan hingga keduanya mengaku telah dianiaya sang guru..

Menurut Hajja Hasnah (nenek korban), dirinya baru tahu kedua cucunya mengalami tindak kekerasan di sekolah saat meminta korban mengganti baju seragamnya usai pulang sekolah. Saat itu korban merasa kesakitan saat tersentuh bagian tubuh yang luka. Hasna yang curiga kemudian minta kedua cucunya memperlihatkan bekas-bekas luka disekujur tubuh korban. Hasnah kaget yang mendapati sekujur tubuh dna wajah cucunya memear kaget. Tidak terima perlakuan sang guru kepada kedua cucunya, sang nenek bersama kedua korban  akhirnya melaporkan kejadian ini kepada pihak kepolisian sektor wonomulyo, polewali mandar. “Saya tidak terima perlakuan guru seperti ini bertindak kasar terhadap anak didiknya hanya karena alas an sepele,”ujar hasna saat menemani cucunya melapor ke polisi.

Sayangnya saat polisi ke sekolah korban, sang guru agama yang diketahui bernama Udin, salah seorang guru yang masih berstatus sebagai guru honorer di sekolahnya ini sudah tak ada di sekolah, lantaran jam pelajaran sekolah usai. Pelaku rencannaya besok baru akan dipanggil polisi untuk mempertanggungjawabkan tindakannya. Jika terbukti bersalah, oknum guru tersebut diancam undang undang perlindungan anak dengan ancaman hukuman minimal 3 tahun penjara. (Posted : Edy Junaedi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar