Rabu, 03 April 2013

Warga Keturunan Toraja di Polewali Lestarikan Tradisi Rambu Solo


Tradisi rambu solo atau upacara pemakaman ala masyarakat Tanah toraja, juga dilestarikan masyarakat keturunan Toraja-Mamasa di polewali mandar sulawesi barat. Meski sejumlah rangkian prosesi rambu solo ditiadakan karena menghargai komunitas pemeluk agama lain disekitarnya, namun secara keseluruhna prosesi Rambu solo yang menyedot perhatian wisatawan dan ribuan warga terutama warga keturunan Toraja ini tetap khidmat.
Sebelum upacara pemakaman berlangsung, prosesi ritual rambu solo yang digelar warga keturunan toraja mamasa di kelurahan lantora polewali mandar ini diawali dengan mappasitandu tedong atau  adu kerbau. Kerbau yang telah diadu di lapangan atau di tengah sawah yang disaksikan warga ini, selanjutnya disembelih dnegan cara ditombak hingga mati.

Makin banyak kerbau yang ikut diadu dan ditombak, menunjukkan kekayaan dan ketinggian satus sosial atau kebangsawanan bagi pemilik hajatan. Tradisi rambu solo yang biasanya mengorbankan sampai ratusan ekor kerbau dan babi ini umumnya digelar hanya dikalangan bangsawan toraja. Kerbau yang telah ditombak ini selanjutnya dibagi-bagikan dagingnya ke sanak tetangga, undnagan dan keluarga yang hadir.

Sebelum jenazah diarak ke tempat pemakaman terakhir, diawali dengan sejumlah rangkaian prosesi adat seperti nyanyian sebagai simbol doa keluarga kepada almarhum, agar menghadapi alam akhirat dnegan penuh keceriaan.

Saat jenazah yang telah dikremasi siap-siap diarak ke tempat bpemakaman terakhir. Seekor kembau kembali disembelih dnegan cara ditombak dan bukan dipotong sesuai tradisi moyang toraja yang dahulu berburu hewan liar di hutan dengan cara ditombak. Darah kerbau yang telah disembeli selanjutnya diinjak oleh keluarga secara bergantian. Ritual ini sebagai bentuk doa penghormatan terakhir agar jenazah almarhum diterima di alam baqa dan keluarga yang ditinggalkan tidak berada dalam kesusahan atau penderitaan.

Sebelum meningalkan rumah duka/ jenazah diarak bolak balik sebanyak tiga kali sebelum ditandu ke tempat pemakaman// ratusan keluarga pun memberi penghormatan terakhir// isak tangis tak terbendung saat jenazah akan dilepas.

Jenazah kemudian ditandu di sepanjang jalan sambil diangkat berkali-kali dan para pelayak bersorak ria di sepanjang jalan hingga ke tempat pemakaman. Menurut adat dan tradisi keturunan warga toraja, tak boleh ada tangis dan rasa sedih saat jenazah menigggalkan rumah hingga ke tempat pemakaman agar arwahnya diterima dengan penuh kegembiraan di alam baka.

Sebelum dimasukkan ke kuburan, jenazah didoakan terakhir kalinya oleh seorang pendeta agar arwahanya selamat di alam akhirat.

Jika warga tanah toraja mengebumikan keluarganya di sela gunung batu, namun karena tak ada gunung batu di polewali mandar, warga keturunan toraja mengebumikan sanak keluarganya di sebuah bagunan atau kuburan raksasa//

Silvanus palasa, kelurga besar almarhum maryam saleppang menyebutkan tradisi  tardisi rambu solo dilakukan masyarakat keturunan toraja sejak nenek moyang mereka sampai masyakat toraja dan mamasa mengenal agama kristen sebagai salah satu keyakinan mereka. Tradisi rambu solo ini tetap dilestarikan. “Ini tradisi bukan agama yang tetap dilestarikan masayarkat ketuurnnaToraja mamasa hinga kini.”ujar Silvanus palasa, kelurga besar almarhum maryam saleppang

Upacara rambu solo sendiri umumnya hanya digelar oleh kalangan bangsawan toraja mamasa termasuk di tempat perantauan mereka. Masyarakat toraja tetap mempertahankan tradisi mereka.

Ritual rambu solo yang menyedot perhatian ribuan warga ini kerap jadi objek wista budaya yang memperkaya khasanah kebudayaan lokal di polewali mandar. (Mandar, 03042013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar