Jumat, 28 Oktober 2011

Miris, 5 Bocah Hidup Serumah Tanpa Orang Tua


Ernia menyuguhkan sarapan pagi tanpa lauk pauk untuk adik-adiknya
Nasib tak beruntung menerpa lima bocah bersaudara di Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Mereka kehilangan orang tua dan kakak-kakaknya  justru di saat mereka sedang membutuhkan perhatian dan panutan dalam keluarga. Ayahnya meninggal karena keracunan tiga tahun lalu, sedang ibu dan empat kakanya dari sembilan bersaudara, merantau ke Kalimantan, sejak tiga tahun lalu, tanpa pernah saling tahu kabar beritanya. Agar bisa bertahan hidup sang kakak bekerja sebagai tukang cuci piring di salah satu warung di desanya, sedang adik-adiknya bekerja menjadi pengumpul batu.
Hari masih pagi, namun Ernia (13) sudah harus bangun lebih awal agar bisa menyiapkan sarapan pagi sekaligus makan siang untuk keempat adiknya, Asri (11), Asrul (9), Aco (7) dan Nita (5), sebelum berangkat ke tempat kerjanya. Rutinitas yang membosankan  seperti layaknya ibu rumah tangga ini sudah dilakoni Ernia, sejak ibunya, Juli (60) merantau ke Kalimnatan bersama empat kakaknya.

Sebelum adik-adiknya terjaga, sarapan pagi yang kerap hanya nasi tanpa lauk pauk sudah siap di lantai rumahnya. Menyantap makanan yang jauh dari standar Gizi 4 sehat 5 sempurna plus susu, sudah menjadi hal biasa bagi keluarga kecil ini. Makan nasi saja sudah beruntung. Terkadang jika tak ada beras di rumah, Ernia terpaksa mengutang uang atau beras ke tetangga, agar bisa memasak untuk adik-adinya.

Usai srapan pagi ala kadarnya, Ernia kemudian pamit dengan adik-adiknya untuk berangkat ke tempat kerja. Karena tak mampu membayar sewa ojek dan tak ada kendaraan pribadi, warga dusun Kanang, desa Batetangnga, kecamatan Binuang, polewali mandar ini terpaksa berjalan kaki ke tempat kerja. Setelah berjalan lebih dari 20 menit, Ernia tiba di warung bakso tempatnya bekerja, tak jauh dari pasar kampung di desanya.

Ernia Bersih-bersih Dapur
Siapkan sarapan pagi dan makan siang

Kebebasana bermain dan bersekolah merupakan hak asasi manusia setiap anak. Namun Ernia yang terpaksa memanggul tanggung jawab orang tua untuk merawat dan menafkahi adik-adiknya. harus kehilangan kesempatan untuk menikmati suasana bermain dan mendapatkan pendidikan yang layak dan dijamin negara.

Warung bakso tempat Ernia bekerja hanya buka dua kali seminggu yakni selasa dan jumat pagi tepatnya pada hari pasar. Jasa Ernia sebagai tukang cuci piring dibayar Rp 15.000 perhari. “Kalau beras habis dan uang tidak ada lagi terpaksa mengutang ke tetangga,”ujar Ernia.

Penghasilan Ernia Rp 30.000 perminggu, tentu saja jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti membeli beras dan lauk pauk untuk lima anggota keluarga kecilnya. Ernia terkadang harus mengutang ke tetangga jika persedian berasnya habis dan uang gaji yang tak seberapa sudah tak ada di tangan.

Untuk mengurangi beban kakaknya, tiga adiknya Asri (12), Asrul (10) dan Aco (9) terpaksa harus bekerja sebagai pengumpul batu kerikil di sungai tak jauh daru rumahnya. Batu-batu yang dikumpulkan di pinggir sungai dijual. Rutinitas ini biasanya dilakoni Asri dan adik-adiknya usai pulang sekolah atau di hari libur. Dalam sehari bocah ini hanya bisa mengumpulkan hingga 5 ember kerikil yang dijual seharga Rp 1000 per ember. “Paling banyak 5 ember, dan lama baru ada yang beli”Ujar Asri, bocah pengumpul kerikil.

Namun ini tak bisa diharap menjadi sumber pedapatan rutin keluarganya, pasalnya permintaan batu hanya musiman, terutama saat ada proyek perbaikan kanal atau jalan di desanya. Setumpuk batu yang dikumpul selama berhari-hari kerap tak ada yang datang membeli.

Ibrahim, tetangga Ernia kerap mengajak tetangga lain urung rembuk untuk membantu kesulitan 5 bocah malang ini agar beban hidup mereka bisa lebih ringan. “Kita prihatin karena lima bocah termasuk Ernia blum bisa berbuat apa-apa, sementara harus menaggung beban 4 adiknya”ujar Ibrahim mengaku salut dengan ketabahan bocah ini bertahan hidup.

Meski  hidup memperihatinkan dan terpuruk dalam kemiskinan, Ernia tetap mengajarkan prinsip hidup luhur kepada adik-adiknya. Ernia tak lupa menamkan prinsip kejujuran, kesabaran dan etika hidup bertetangga kepada adik-adiknya.

Nyaris tak ada waktu bagi Ernia dan adik-adiknya untuk bermain, layaknya anak-anak tetangga lainnya. Untuk mengusir rasa sepih dan rindu ingin berkumpul kembali bersama ibu dan kakak-kakaknya yang kini sedang merantau ke kalimnatan dengan harapan bias memperbaiki taraf hidup keluarganya, Ernia dan adik-adiknya hanya bisa memandangi foto-foto keluarga yang disimpan rapih di rumahnya.

Kalau saja perangkat institusi negara bekerja, Ernia tentu tak harus kehilangan masa kanak-kanaknya yang indah karena harus sibuk bekerja mencari nafkah dan membesarkan adik-adiknya. Mengabaikan tanggungjawab negara untuk mengurus keluarga terlantar seperti Ernia adalah potrest nyata betapa negara telah alfa dan melakukan pelanggaran terhadap wargnya seperti Ernia dan adik-adiknya yang tak berdaya.

Juli (60) ibu Ernia memutuskan merantau ke kalimantan meninggalkan Ernia dan adik-adiknya tiga tahun lalu, dengan harapan kelak bisa memperbaiki taraf hidup keluarganya. Namun jangankan mengirim uang untuk biaya hidup ernia dan adik-adiknya, keluarga yang hidup terpisah dengan pulau dan lautan ini tak pernah saling tahu kabar beritanya.

Sejak ayahnya Sudirman (63) meninggal dunia tiga tahun lalu. Anggota keluarga Ernia hidup tercerai berai. Satu-satunya harta kekayaan milik Ernia hanya rumah peninggalan sang ayah. Sepetak kebun yang dulu menjadi sumber kehidupan bagi keluarganya terpaksa dijual ibunya karena himpitan ekonomi.

Ernia tak punya harapan muluk-muluk. Bocah yang terpaksa menjadi orang tua bagi empat adik-adiknya ini hanya berharap, kelak ibu Juli dan kakak-kakanya yang kini bekerja sebagai buruh kelapa sawit di Kalimantan, bisa segera pulang agar bisa berkumpul kembali seperti ketika keluarganya masih utuh.

1 komentar:

  1. Kami dari panitian kompetisi IHRBA
    tulisan ini sudah masuk dalam sistem kami, tapi belum dapat kami setujui karena belum sesuai dengan persyaratan teknis.

    Silahkan sesuaikan dengan persyaratan teknis di http://hamblogger.org/peraturan-dan-ketentuan/

    BalasHapus